NAMA : SITI UMIHANIK
NIM : 5302410213
ROMBEL : 4
DOSEN PENGAMPU : ARIF ARFRIANDI
TUGAS KEAMANAN JARINGAN KOMPUTER
CIDR dan VLSM
· IP adress
NIM : 5302410213
ROMBEL : 4
DOSEN PENGAMPU : ARIF ARFRIANDI
TUGAS KEAMANAN JARINGAN KOMPUTER
CIDR dan VLSM
· IP adress
IP adalah suatu
alamat logika untuk perangkat - perangkat jaringan yang menggunakan protocol
TCP/IP agar perangkat tersebut dapat saling berkomunikasi. Pada IP versi 4
terdiri dari 32 bit binary dan dibagi menjadi 4 oktet. IP tersebut dibagi
menjadi 5 kelas dari kelas A-E. Namun yang sering digunakan adalah kelas A-C.
·
Alokasi IP
Pada saar kita melakukan subneting pada suatu IP kita akan mendapatkan
beberapa subnet IP baru. Namun tidak semua IP dalam subnet tersebut dapat
diberikan ke sebuah perangkat.
·
IP Private
IP Private adalah sekelompok IP pada kelas A, B, C yang bebas kita pakai
tanpa harus mendaftarkanya terlebih dahulu ke lembaga pengelola domain seperti
IANA atau PANDI. IP ini hanya dikenal dalam jaringan pribadi itu sendiri dan
tidak dikenal oleh internet.
·
Subneting
Apakah kita harus mempunyai banyak ip public untuk mengkoneksikan beberapa computer teman kita ke internet? Jawabanya adalah tidak perlu. Karena ip public sendiri sudah terbatas yang disebabkan oleh menjamurnya situs – situs di internet. Subneting adalah suatu cara untuk memperbanyak network ID dari satu network ID yang kita miliki.
Apakah kita harus mempunyai banyak ip public untuk mengkoneksikan beberapa computer teman kita ke internet? Jawabanya adalah tidak perlu. Karena ip public sendiri sudah terbatas yang disebabkan oleh menjamurnya situs – situs di internet. Subneting adalah suatu cara untuk memperbanyak network ID dari satu network ID yang kita miliki.
- CIDR (Classless Inter-Domain Routing)
Classless Inter-Domain Routing (atau CIDR)
adalah sebuah cara alternatif untuk mengklasifikasikan alamat – alamat IP
berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A, kelas B, kelas C, kelas D,
dan kelas E. Disebut juga sebaga supernetting.
CIDR merupakan mekanisme routing yang lebih efisien dibandingkan dengan cara
yang asli, yakni dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, C, D dan E. CIDR memakai network prefix dengan panjang tertentu. Network prefix ini menentukan jumlah bit sebelah kiri yang
digunakan sebagai network ID. Contoh dari penulisan dari network previx adalah
/18 dibelakang ip address. Contoh : 202.168.0.1 /18.
Masalah yang terjadi pada sistem yang lama adalah bahwa sistem tersebut
meninggalkan banyak sekali alamat IP yang tidak digunakan. Sebagai contoh,
alamat IP kelas A secara teoritis mendukung hingga 16 juta host komputer yang
dapat terhubung, sebuah jumlah yang sangat besar. Dalam kenyataannya, para
pengguna alamat IP kelas A ini jarang yang memiliki jumlah host sebanyak itu,
sehingga menyisakan banyak sekali ruangan kosong di dalam ruang alamat IP yang
telah disediakan. CIDR dikembangkan sebagai sebuah cara untuk menggunakan
alamat-alamat IP yang tidak terpakai tersebut untuk digunakan di mana saja.
Dengan cara yang sama, kelas C yang secara teoritis hanya mendukung 254 alamat
tiap jaringan, dapat menggunakan hingga 32766 alamat IP, yang seharusnya hanya
tersedia untuk alamat IP kelas B.
- VLSM (Variable Length Subnet Mask)
Vlsm adalah pengembangan mekanisme
subneting, dimana dalam vlsm dilakukan peningkatan dari kelemahan subneting
klasik, yang mana dalam clasik subneting, subnet zeroes, dan subnet- ones tidak
bisa digunakan. selain itu, dalam subnet classic, lokasi nomor IP tidak
efisien. VLSM hampir sama dengan CIDR. Walaupun VLSM mempunyai IP local
VLSM dapat melakukan koneksi ke internet hanya saja jaringan internet hanya
mengenal IP Address berkelas.
Jika proses
subnetting yang menghasilkan beberapa subjaringan dengan jumlah host yang sama
telah dilakukan, maka ada kemungkinan di dalam segmen-segmen jaringan tersebut
memiliki alamat-alamat yang tidak digunakan atau membutuhkan lebih banyak
alamat. Karena itulah, dalam kasus ini proses subnetting harus dilakukan
berdasarkan segmen jaringan yang dibutuhkan oleh jumlah host terbanyak. Untuk
memaksimalkan penggunaan ruangan alamat yang tetap, subnetting pun
diaplikasikan secara rekursif untuk membentuk beberapa subjaringan dengan
ukuran bervariasi, yang diturunkan dari network identifier yang sama. Teknik
subnetting seperti ini disebut juga variable-length subnetting.
Subjaringan-subjaringan yang dibuat dengan teknik ini menggunakan subnet mask
yang disebut sebagai Variable-length Subnet Mask (VLSM).
Karena semua subnet diturunkan
dari network identifier yang sama, jika subnet-subnet tersebut berurutan
(kontigu subnet yang berada dalam network identifier yang sama yang dapat
saling berhubungan satu sama lainnya), rute yang ditujukan ke subnet-subnet
tersebut dapat diringkas dengan menyingkat network identifier yang asli.
Teknik variable-length subnetting
harus dilakukan secara hati-hati sehingga subnet yang dibentuk pun unik, dan
dengan menggunakan subnet mask tersebut dapat dibedakan dengan subnet lainnya,
meski berada dalam network identifer asli yang sama. Kehati-hatian tersebut
melibatkan analisis yang lebih terhadap segmen-segmen jaringan yang akan
menentukan berapa banyak segmen yang akan dibuat dan berapa banyak jumlah host
dalam setiap segmennya.
Dengan menggunakan
variable-length subnetting, teknik subnetting dapat dilakukan secara rekursif:
network identifier yang sebelumnya telah di-subnet-kan, di-subnet-kan kembali.
Ketika melakukannya, bit-bit network identifier tersebut harus bersifat tetap
dan subnetting pun dilakukan dengan mengambil sisa dari bit-bit host.
Tentu saja, teknik ini pun
membutuhkan protokol routing baru. Protokol-protokol routing yang mendukung
variable-length subnetting adalah Routing Information Protocol (RIP) versi 2
(RIPv2), Open Shortest Path First (OSPF), dan Border Gateway Protocol (BGP
versi 4 (BGPv4). Protokol RIP versi 1 yang lama, tidak mendukungya, sehingga
jika ada sebuah router yang hanya mendukung protokol tersebut, maka router
tersebut tidak dapat melakukan routing terhadap subnet yang dibagi dengan
menggunakan teknik variable-length subnet mask.
Perhitungan IP Address
menggunakan metode VLSM adalah metode yang berbeda dengan memberikan suatu
Network Address lebih dari satu subnet mask. Dalam penerapan IP Address
menggunakan metode VLSM agar tetap dapat berkomunikasi kedalam jaringan
internet sebaiknya pengelolaan networknya dapat memenuhi persyaratan :
1.
Routing protocol yang
digunakan harus mampu membawa informasi mengenai notasi prefix untuk setiap
rute broadcastnya (routing protocol : RIP, IGRP, EIGRP, OSPF dan lainnya, bahan
bacaan lanjut protocol routing : CNAP 1-2)
2.
Semua perangkat router
yang digunakan dalam jaringan harus mendukung metode VLSM yang
menggunakan algoritma penerus packet informasi.
Penerapan VLSM
Contoh: IP
adress 130.20.0.0/20
Hitung dulu
jumlah subnet menggunakan CIDR, maka didapat:
11111111.11111111.11110000.00000000
= /20
Jumlah angka
binary 1 pada 2 oktat terakhir subnet adalah 4 maka
Jumlah
subnet = (2x) = 24 = 16
Maka blok
tiap subnetnya adalah :
Blok subnet
ke 1 = 130.20.0.0/20
Blok subnet
ke 2 = 130.20.16.0/20
Blok subnet
ke 3 = 130.20.32.0/20 dan seterusnya sampei dengan:
Blok subnet
ke 16 = 130.20.240.0/20
Selanjutnyaambil
nilai blok ke 3 dari hasil CIDR yaitu 130.20.32.0 kemudian :
à Pecah menjadi 16 blok
subnet, dimana nilai16 diambil dari hasil perhitungan subnet pertama yaitu /20
= (2x) = 24 = 16
à Selanjutnya nilai subnet di ubah tergantung kebutuhan untuk pembahasan
ini kita gunakan /24, maka didapat 130.20.32.0/24 kemudian diperbanyak menjadi
16 blok lagi sehingga didapat 16 blok baru yaitu :
Blok subnet
VLSM 1-1 = 130.20.32.0/24
Blok subnet
VLSM 1-2 = 130.20.33.0/24
Blok subnet
VLSM 1-3 = 130.20.34.0/24
Blok subnet
VLSM 1-4 = 130.20.35.0/24 dan seterusnya sampai dengan:
Blok subnet
VLSM 1-16 = = 130.20.47/24
à Selanjutnya kita
ambil kembali nilai ke 1 dari blok subnet VLSM 1-1 yaitu 130.20.32.0 kemudian
kita pecah menjadi 16:2 = 8 blok subnet lagi, namun oktat ke 4 pada Network ID
yang kita ubah juga menjadi8 blok kelipatan dari 32 sehingga didapat :
Blok subnet
VLSM 2-1 = 130.20.32.0/27
Blok subnet
VLSM 2-2 = 130.20.32.32/27
Blok subnet
VLSM 2-3 = 130.20.33.64/27
Blok subnet
VLSM 2-4 = 130.20.34.96/27
Blok subnet
VLSM 2-5 = 130.20.35.128/27
Blok subnet
VLSM 2-6 = 130.20.36.160/27
Blok subnet
VLSM 2-1 = 130.20.37.192/27
Blok subnet
VLSM 2-1 = 130.20.38.224/27
Manfaat VLSM
a.
Efisien menggunakan alamat IP karena alamat IP yang
dialokasikan sesuai dengan kebutuhan ruang host setiap subnet.
b.
VLSM mendukung hirarkis menangani desain sehingga dapat
secara efektif mendukung rute agregasi, juga disebut route summarization.
c.
Mampu mengurangi jumlah rute di routing table oleh berbagai
jaringan subnets dalam satu ringkasan alamat
Sumber referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar